Yang Perlu Anda Tahu Tentang Tes Antibodi

Salah satu alat uji kilat yang digunakan. Tak sampai 15 menit, hasil sudah dapat diketahui.
Tes kilat (rapid test) di Indonesia dilakukan untuk menguji antibodi. Bila hasil tes negatif, apa itu berarti Anda sudah kebal virus korona?

Saat virus korona-baru menerjang seluruh dunia, para ilmuwan bergegas menemukan cara bagaimana mengidentifikasi orang-orang yang terinfeksi–termasuk yang telah sembuh dari Covid-19. Orang-orang ini diduga sudah kebal terhadap virus itu dan secara teori bisa membantu memulihkan kembali perekonomian, tanpa khawatir terinfeksi lagi.

Salah satu kunci mengungkap teka-teki ini adalah memahami uji serologis, suatu tes yang bertujuan menemukan antibodi spesifik dalam darah seseorang. Di Indonesia istilah yang lebih populer adalah rapid test. Tes cepat untuk mengetahui apakah orang terpapar virus korona atau tidak.

Uji serologis telah pula digunakan di beberapa kota di dunia untuk memperkirakan berapa banyak populasi yang terpapar di suatu daerah. Misal saja, di New York City dan Los Angeles, AS.

Tapi apa sebetulnya tes-tes ini? Betulkah ia dapat membantu mengidentifikasi siapa yang kebal terhadap SARS-CoV-2? Berdasarkan cara bekerjanya, berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang tes antibodi virus korona.

Baca juga: Tanya-jawab Covid-19

Apa itu tes antibodi?

Hanya dalam waktu beberapa jam setelah ada serbuan asing menyusup ke dalam tubuh, seperti SARS-CoV-2, sistem kekebalan tubuh kita akan melakukan serangan secara acak. “Pasukan umum” di dalam tubuh dilemparkan ke arah “penyusup asing” tadi. Namun tubuh kemudian akan mulai mengirimkan molekul-molekul besar berbentuk Y, yang disebut antibodi, yang tugasnya menargetkan virus secara tepat. Antibodi ini mengikat erat, mengunci, bagian tertentu dari virus tersebut.

Nah, tes antibodi dirancang untuk mendeteksi keberadaan molekul-molekul ini.

“Tujuan tes antibodi adalah, alih-alih bertanya apakah Anda merasa sakit akibat Covid-19, kita bisa bertanya pada sistem kekebalan tubuh apakah ia telah melihat virus korona,” kata Daniel Larremore, asisten profesor di Departemen Ilmu Komputer dan BioFrontiers Institute di University of Colorado Boulder.

Laporan Live Science menyebutkan tes antibodi dirancang untuk mendeteksi satu dari dua jenis molekul, yaitu imunoglobulin M dan imunoglobulin G. (Imunoglobulin adalah sebutan untuk kelompok protein di dalam tubuh. Ia sangat heterogen dan berfungsi membantu memerangi virus dan zat asing yang masuk ke tubuh, sebagai suatu antibodi—Adminspektator)

Dalam waktu beberapa hari sampai satu pekan setelah patogen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan sejumlah kecil imunoglobulin M (IgM). IgM ini memang pertahanan pertama tubuh melawan infeksi. Hasil pemeriksaan IgM dengan nilai tinggi, berarti ada infeksi yang masih aktif—Adminspektator. Lalu beberapa hari sampai dua pekan berikutnya, tubuh akan mengirimkan sejumlah besar imunoglobulin G (IgG). Ini adalah antibodi yang “mengingat” musuh yang telah Anda hadapi sebelumnya. Jika musuh itu kembali, sistem kekebalan tubuh Anda akan menyerang mereka—Adminspektator.

Berhubung respons sistem kekebalan ini perlu waktu untuk muncul, maka tes antibodi akan menunjukkan hasil negatif pada orang yang baru terinfeksi Covid-19. Itu sebab, tes ini tidak digunakan untuk keperluan diagnosis.

“Kalau baru tahap awal infeksi, Anda tidak akan menemukannya, karena ini adalah sesuatu yang baru berkembang kemudian,” kata Dr. Melanie Ott, ahli virologi dan imunologi di Gladstone Institutes dan seorang profesor di University of California, San Francisco.

Bagaimana cara kerja tes antibodi?

Ada dua jenis tes antibodi yang umumnya digunakan untuk menguji SARS-CoV-2, yaitu uji aliran lateral-imuno (lateral flow immuno-assays), dan uji kadar imunosorben tertaut-enzim atau enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Adminspektator: ELISA ditemukan oleh Peter Perlmann dan Eva Engvall, pada 1971, untuk menganalisis interaksi antigen dengan antibodi di dalam suatu sampel dengan menggunakan enzim sebagai reporter label.

Keduanya menggunakan prinsip dasar yang sama: sampel darah atau serum seseorang (yaitu bagian cairan dalam darah) “dicuci” di atas sebuah permukaan yang menahan molekul-molekul yang diikat oleh antibodi. Ketika antibodi berikatan dengan molekul target tersebut, maka tes akan membacanya dengan reaksi kimia lain, misal perubahan warna.

“Uji lateral imuno sangat mudah dan cepat dilakukan oleh siapa saja, karena pada dasarnya mirip seperti uji kehamilan dengan test pack (bedanya menggunakan darah atau serum, sebagai pengganti urin). Hasilnya dapat langsung dibaca dalam waktu sangat cepat,” kata Jesse Bloom, ahli virus di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson.

Namun, meski uji aliran lateral sangat mudah digunakan dan hasilnya dapat dibaca dengan sangat cepat, namun metode ini tidak dapat dimodifikasi, kata Larremore.

Adapun uji ELISA, harus dijalankan di laboratorium. Bisa menggunakan pipet dan wadah, dan harus ada teknisi yang menjalankan. Hasilnya pun membutuhkan waktu yang lebih lama, biasanya sekitar 2-3 jam. Hal ini dijelaskan oleh Charlotte Sværke Jørgensen yang mempelajari Virus and Microbiological Special Diagnosis Serology di Statens Serum Institute di Copenhagen.

Setiap tes antibodi mengambil bagian tertentu dari virus sebagai molekul targetnya. Dalam kasus SARS-CoV-2, sebagian besar tes berfokus pada spike protein virus yang digunakan untuk menyerang sel tubuh. Beberapa tes mengikat area S1 dari spike protein virus korona (spike protein memiliki dua subunit, yaitu S1 dan S2), kata Jørgensen. Sementara tes lainnya mengikat sebagian kecil dari area S1, yang disebut receptor-binding domain (RBD), yaitu protein spesifik yang menempel pada reseptor ACE2 manusia untuk masuk ke dalam sel tubuh. RBD ini mungkin adalah bagian paling spesifik dari antibodi untuk SARS-CoV-2, karena bagian lain pada virus lebih mirip dengan virus korona jenis yang lain, kata Jørgensen.

Apa yang membuat sebuah tes antibodi bagus?

Secara umum, yang diharapkan adalah tes yang sangat sensitif dan sangat spesifik. Sensitif artinya tes tersebut menemukan sebanyak mungkin orang yang benar-benar terinfeksi virus. Sedangkan spesifik (khusus), artinya tidak mendapatkan banyak hasil “positif palsu”, yaitu orang yang dites positif padahal belum pernah terpapar SARS-CoV-2. Baik Bloom dan Larremore sama-sama menjelaskan demikian.

Tingkat positif-palsu ini sangat penting sekarang. Sebagian besar orang di AS belum terpapar dengan SARS-CoV-2, yang berarti angka positif-palsu dapat secara dramatis mengubah hasil tersebut. Bila sebuah tes 98% spesifik, misalnya, itu artinya jika 100 orang dinyatakan positif terpapar virus, maka 98 orang di antaranya benar-benar terinfeksi, dan dua dari mereka sebetulnya tidak pernah mengalaminya.

Terdengar bagus di atas kertas, namun jika hanya 1% dari populasi yang terinfeksi, maka Anda mungkin menemukan satu orang yang benar-benar positif, dan dua orang lain yang secara keliru dites positif. Sebagian besar orang yang dites positif, nyatanya tidak pernah terinfeksi, kata Bloom kepada Live Science. Semakin jarang virus terdeteksi dalam sebuah populasi, semakin penting tingkat kekhususannya. Hasil pengujian antibodi baru-baru ini di wilayah Santa Clara dan Los Angeles telah dikritik karena memiliki masalah ini.

Untuk memastikan pengujian memiliki kekhususan dan sensitivitas yang baik, pabrikan harus “mengalibrasi” alat ujinya. Ini melibatkan penggunaan sampel darah atau serum mereka yang telah dikonfirmasi terpapar Covid-19, dan memastikan bahwa tes antibodi menunjukkan hasil positif untuk sebagian besar orang tersebut.

Di sisi lain, untuk memastikan pengujian tak menghasilkan banyak kasus positif-palsu, maka yang perlu diuji adalah darah orang-orang yang diketahui tidak pernah terpapar Covid-19. Berhubung tidak ada seorang pun di dunia ini yang kemungkinan sudah terkena virus korona-baru sebelum musim gugur tahun lalu, idealnya sampel diambil dari masa sebelum periode tersebut–tapi jangan terlalu jauh ke belakang.

Seperti halnya produk di toko daging, “kita menginginkan sampel darah yang segar dan dari lokal,” kata Larremore.

Dengan demikian, sampel darah akan memiliki antibodi terhadap virus korona lain, semisal yang menyebabkan pilek, yang berkembang di lingkungan selama musim itu, kata Larremore.

“Kita perlu memastikan bahwa pengujian tidak menurun kualitasnya ketika melihat virus korona jenis lain tersebut,” tambahnya.

Uji ELISA dapat dikalibrasi dan disesuaikan untuk komunitas lokal dengan menggunakan sampel lokal. Virus korona jenis lain mungkin saja telah berkembang di wilayah lain, jadi penggunaan sampel lokal dapat memastikan pengujian tidak keliru memeriksa virus korona yang paling banyak di wilayah itu.

Tapi, uji aliran lateral yang “tidak biasa” tidak dapat dimodifikasi. Tambahan, bila sampel kontrol yang digunakan berasal dari, katakanlah Tiongkok, maka pengujian yang dilakukan mungkin akan baik-baik saja untuk mendeteksi adanya kasus Covid-19, namun bukan untuk menghilangkan kasus positif-palsu. Pengujian yang salah perhitungan bisa melebih-lebihkan hasil semua survei komunitas yang memperkirakan prevalensi virus, kata Larremore.

Dan seperti yang diharapkan, semakin banyak sampel yang digunakan untuk mengalibrasi tes, semakin baik pula hasilnya. Larremore telah membuat sebuah kalkulator daring yang dapat menggunakan data kalibrasi dari tes tertentu untuk memprediksi sensitivitas dan kekhususannya.

Apakah memiliki antibodi berarti saya kebal?

Hal lain yang rumit dari tes antibodi adalah kita tidak tahu apa artinya hasil tes itu bagi kekebalan dalam jangka panjang atau bahkan jangka pendek. Beberapa orang yang telah berhasil mengalahkan Covid-19 mungkin juga tak menghasilkan antibodi sama sekali. Namun tak berarti mereka tak kebal.

Contohnya: sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 6 April ke database pencetakan pendahuluan medRxiv–yang belum mendapat tinjauan-sejawat (peer-reviewed)–menemukan bahwa dari 175 pasien Covid-19 di Tiongkok, sekitar 30% di antaranya (yang cenderung lebih muda) memiliki tingkat antibodi yang sangat rendah. Toh, mereka pun pulih dengan baik. Selain itu, ada kemungkinan tubuh menciptakan antibodi yang berbeda dari jenis yang ditangkap oleh tes. Itu artinya, Anda mungkin kebal tetapi ketika di-tes masih negatif.

Baca juga: Sembuh dari Covid-19, Apa Bisa Terinfeksi Kembali?

Di sisi lain, beberapa orang bisa saja mengembangkan antibodi, tapi antibodi itu mungkin tak terlalu efektif menetralkan virus, kata Dr. Melanie Ott.

Menurut studi pada 2017 yang dimuat jurnal Viral Research, virus korona lain menunjukkan gambaran yang bervariasi terhadap kekebalan. Orang-orang menghasilkan antibodi terhadap virus korona yang lebih parah, yaitu SARS dan MERS (Sindrom Pernapasan Timur Tengah), setidaknya selama beberapa tahun. Tapi jenis virus korona yang menyebabkan flu biasa dapat menginfeksi kembali orang yang sama dalam waktu satu tahun. Ini menurut penelitian yang masih menjalani tinjauan-sejawat tapi dipublikasikan secara daring oleh Columbia University. Saat ini masih terlalu dini untuk mengatakan kelompok mana yang termasuk SARS-CoV-2.

“Intinya, jika Anda membuat antibodi, maka Anda mungkin memiliki beberapa jenis kekebalan. Tapi kita tak tahu apa jenisnya dan berapa lama ia akan bertahan,” kata Ott kepada Live Science.

Ini berarti tes antibodi yang andal bisa saja memperkirakan berapa banyak orang yang telah terinfeksi, namun tidak bisa memberi tahu apakah seseorang kebal terhadap penyakit itu.

Saat ini, ada banyak tes antibodi yang beredar di pasaran. Hasilnya bisa sulit ditafsirkan karena kita tidak tahu seberapa dapat diandalkannya mereka, kata Ott.

“Sains membutuhkan waktu untuk melakukan sesuatu dengan benar,” jelasnya. “Virus ini memang tidak memberikan banyak waktu pada kita. Tapi kadang-kadang, terburu-buru juga tidak membantu.”

Catatan Editor Live Science: Cerita ini diperbaiki untuk memperbarui afiliasi Melanie Ott. Gladstone Institute bukan bagian dari UCSF, meskipun Ott adalah seorang profesor di UCSF

Catatan tambahan: Live Science mewawancarai narasumbernya melalui surat elektronik.

Sumber: Can antibody tests tell if you’re immune to COVID-19?

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel