Pandemi Tidak Selesai Dengan Gimik

Tanggal 11 kemarin, WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi. Wabah terjadi secara masif dan tak terkendali. Peristiwa ini sudah diramalkan dalam serial dokumenter di Netflix: Pandemic.

“Kita bisa jadi inang sejumlah penyakit. Cuma menunggu waktu sebelum pandemi berikutnya dimulai. Entah di mana dan bagaimana tapi itu pasti,” kata Syra Madad, seorang doktor ilmu kesehatan yang bertanggung jawab mempersiapkan rumah sakit di New York City untuk menghadapi wabah penyakit infeksi.

Beberapa menit berikutnya, suara narator dalam dokumenter untuk episode satu itu menjelaskan, kalau flu pandemi dan flu musiman sangat berbeda. Pandemi influenza datang dari hewan. Itu akan menjadi virus baru yang belum ada sebelumnya. Ketika virus baru yang muncul dari hewan, kita tak akan punya imunitas alami. Sistem imun kita tak akan bisa melawan infeksi.

Sebelum menetapkan peristiwa ini sebagai pandemi, WHO sudah menetapkan wabah virus korona-baru sebagai keadaan darurat global pada akhir bulan Januari. Situasi tersebut harusnya menjadi peringatan bagi negara-negara untuk waspada dan tidak menganggap remeh wabah ini.

Sedangkan sehari sebelum pengumuman Covid-19 sebagai pandemi, WHO mengirimkan surat kepada Presiden Indonesia, menyarankan agar Presiden mengumumkan status darurat nasional untuk Covid-19.

Selain itu WHO juga terus mendesak pemerintah untuk berfokus pada pendeteksian kasus, dan kepastian kapasitas pengujian laboratorium. Keduanya penting, melihat kecenderungan di beberapa negara terjadi peningkatan kasus secara drastis. Kalau memang itu terjadi, kemungkinannya adalah, sejak awal pemerintah tidak serius mendeteksi virus ini. Atau tidak tahu.

Namun begitu, nampaknya butuh waktu tiga hari untuk melihat respon pemerintah atas surat WHO. Presiden baru membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang dikomandoi oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo. Selain itu, tak lupa juga pemerintah terus menghimbau supaya kita tenang dengan situasi yang terjadi.

Dalam pembentukan gugus tugas, ada juga yang menganggap kalau pemerintah terlihat berlebihan, karena Badan Intelijen Negara (BIN) dan Intelijen Polri turut dilibatkan.

BIN, sebagaimana kemampuannya menganalisa situasi, segera saja berkomentar kalau puncak pandemi ini akan berlangsung di bulan Mei mendatang. Entahlah, semoga meleset, maksudnya pandemi ini berakhir sebelum ramalan BIN. Setidaknya pemerintah Indonesia mengejar, supaya di bulan Mei tidak menjadi puncak pandeminya.

Salah satu daya upaya – jika bukan gimik – coba dilakukan oleh Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, dengan menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat melalui penyematan duta imunitas. Bahwa pasien bisa sembuh sendiri dengan meningkatkan sistem imunnya. Setidaknya begitu hipotesa Terawan di hari-hari sebelumnya.

Tanggal 14 kemarin, Menteri Kesehatan, berdiri di hadapan ratusan puluh orang di pelabuhan Kolinlamil, Tanjung Priok. Mereka adalah warga Indonesia yang bekerja sebagai anak buah kapal di  World Dream yang sudah menjalani masa karantina.

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto memberikan sertifikat kepada Duta Imunitas untuk korona. Sumber foto: Detik.com

“Saya akan sebutkan saudara-saudara semua sebagai duta-duta imunitas korona,” katanya, lalu tersenyum kecil, disambut tepuk tangan orang-orang yang ada di situ. Ada 188 orang yang sudah menjalani karantina dan mereka disematkan menjadi duta imunitas korona karena mampu meningkatkan imunitasnya. “Kalau saudara-saudara bisa meningkatkan imunitas terhadap korona berarti kami pun bisa.”

Harapan Terawan, mereka bisa menceritakan pengalamnnya ke semua orang. Tapi apakah duta imunitas ini bisa menginspirasi atau malah dipandang hanya sebagai gimik? Gimik yang dilakukan untuk menutupi  rasa paniknya.

Harusnya dengan pembentukan gugus tugas tersebut, Kementrian Kesehatan merasa perlu berbenah diri, dan Terawan tidak menganggap tanggung jawab institusinya berkurang. Nanti muncul lagi, kalau menyematkan penghargaan pada mereka yang sudah pulih. Sedangkan, kasus Covid-19 terus mengalami lonjakan tiap harinya.

Di hari yang sama dengan penyematan duta imunitas, di Indonesia sudah terdapat 69 kasus, besoknya meningkat menjadi 117 kasus – informasi ini datang dari BNPB yang disebar melalui pesan singkat, saya mendapatkan pesan itu jam empat sore, tapi entah kenapa pengumuman itu cuma datang satu hari saja.

Hari senin besoknya, kasus Covid-19 naik menjadi 134 kasus. Sampai pada laporan terakhir, Covid-19 mencapai 172 kasus.

Melalui Kepala BNPB, kemarin, pemerintah mengumumkan perpanjangan masa darurat bencana hingga 29 Mei. Surat ini sebenarnya sudah ditetapkan pada 29 Februari. Pemerintah memang tertutup dan itu menciptakan kesimpangsiuran.

Seperti dua di antara lima pasien yang meninggal, statusya masih belum pasti positif Covid-19. Yang pertama, kasus ke-25, Achmad Yurianto, mengakui kalau pasien itu postif, namun penyebab meninggalnya karena berbagai penyakit yang diderita oleh pasien. Sementara status orang itu di Dinas Kesehatan Provinsi Bali masih sebagai Pasien Dalam Pengawasan, artinya belum positif Covid-19.

Kedua, kasus ke-35. Pasien tersebut masih berstatus suspek, tetapi baru dinyatakan postif Covid-19 setelah meninggal. “Data terakhir kami terima pasien positif,” kata Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat.

Kasus lain yang menimbulkan prasangka terhadap kesimpangsiuran ini adalah kematian seorang tenaga medis yang terinfeksi Covid-19. Meski juru bicara pemerintah untuk korona mengakui kematian itu, tapi dia enggan mengatakan alasan kenapa tenaga medis itu bisa terinfeksi. Dia juga enggan menjawab saat ditanyai, adakah tenaga medis yang lain terinfeksi.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menengarai kematian tenaga medis bisa terjadi karena minimnya peralatan. Menurutnya, pemerintah terlalu berfokus dengan pasien sampai melupakan kebutuhan para perawatnya. Misalnya, kata dia, pakaian pengaman atau pakaian dekontaminasi saja disiapkan secara mandiri oleh rumah sakit rujukan yang ditunjuk untuk menangani kasus korona.

Meski begitu, Kementrian Kesehatan tetap percaya diri dengan keadaannya saat ini. Melalui juru bicaranya, mereka menolak bantuan dari perusahaan Singapura Temasek Foundation melalui Duta Besar Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya sejak pertengahan Februari lalu.

Alasan dari juru bicara karena alat pendeteksi itu masih tersedia dalam jumlah yang cukup. Ia juga menerangkan, kalau pemerintah berprinsip menggunakan barang sesuai dengan kebutuhan. Tapi, di hari yang sama, 16 Maret, Presiden cepat-cepat meluruskan perkataan juru bicaranya, kalau ia tak menolak bantuan tersebut.

Di tengah-tengah kesimpangsiruan ini dan wabah pandemi, percayalah, keterbukaan informasi yang pasti dan benar jadi satu-satunya cara. Kalau hanya gimik, tidak akan menyelesaikan masalah.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel