Ketidaktahuan dan Ketidakpastian yang Melingkupi Covid-19

https://www.nytimes.com/2020/01/29/opinion/coronavirus-outbreak.html
Gambar ini dari https://www.nytimes.com/2020/01/29/opinion/coronavirus-outbreak.html
  • Goldman, warga AS penumpang Diamond Princess, hanya mengalami flu ringan
  • Perempuan Jepang, setelah dinyatakan pulih, kembali terinfeksi
  • Ahli dari Chicago menduga virus korona-baru memiliki kemiripan dengan SARS
  • Orang mungkin sakit dan menularkan penyakit sebelum gejala muncul

Direktur Jendral Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kamis (5/3), memperingatkan negara-negara di dunia untuk makin serius menghadapi  virus korona-baru. Tingkat komitmen beberapa negara, menurutnya, tidak setanding dengan tingkat ancaman virus.

Mungkin epidemi ini dianggap belum mengancam, atau mungkin pemerintahnya diam-diam, membatin, kalau tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Sementara wabah Covid-19 di seluruh Eropa dan Amerika Serikat terus mengalami lonjakan. Italia, Prancis, Yunani dan Iran, sementara di lepas pantai California, kapal pesiar dijadikan tempat untuk mengarantina orang-orang yang mengalami gejala korona-baru.

Hampir 300 juta siswa di seluruh dunia dipulangkan ke tempat asalnya. Sampai Kementrian Dalam Negeri Arab Saudi, tanggal 4 Maret, mengumumkan penghentian sementara masuknya jamaah umrah dan kujungan ke Masjid Nabawi. Khususnya penghentian kujungan bagi wisatawan dari negara-negara yang telah terjangkit wabah Covid-19. Ka’bah disterilisasi, nampak sunyi dan sepi.

Vatikan pun demikian, harus membatasi para peziarah.

Ada kekhawatiran, melihat respons beberapa negara yang tidak sungguh-sungguh dalam mengatasi epidemi ini. Ketaksungguhan itu, bisa saja memberi makna ketidaktahuan tentang virus ini.

Bulan lalu, kasus kapal Diamond Princess cukup mencengangkan. Pada hari terakhir pelayaran, kapten mengumumkan bahwa seorang penumpang yang telah meninggalkan kapal di Hong Kong empat hari sebelumnya, terjangkit virus korona-baru. Kapal kembali ke Pelabuhan Yokohama.

Carl Goldman, warga Amerika, berada dalam Diamond Princess bersama istrinya. Ia bercerita kepada Vox (wawancaranya bisa didengar di siaran Spotify milik Vox: Today, juga bisa dibaca di sini) bagaimana mereka mengira ini cuma wabah biasa. Petugas kesehatan Jepang datang, mengecek suhu semua penumpang. Prosesnya sekitar 18 jam. Kapten kapal lantas mengumumkan, seluruh penghuni tidak boleh meninggalkan kapal. Dan mereka berada di dalam sana selama hampir 14 hari.

Di pengumuman berikutnya, menjadi jelas kalau di kapal itu ada sepuluh orang yang positif Covid-19. Lalu hari-hari berikutnya, pengumuman selalu datang dengan pesan semakin banyaknya orang terjangkit.

Sebelum masa karantina berakhir, Pemerintah Amerika mengevakuasi 328 warganya yang berada di dalam Diamond Princess, termasuk Goldman.

Ia diberangkatkan dengan pesawat selama enam jam, menuju tempat karantina di Nebraska Medicine di Omaha, Amerika. Dalam dua jam perjalanannya, saat terbangun, didapati demamnya sangat tinggi. Ia positif Covid-19.

Goldman dimasukkan ke unit biocontainment, begitu sampai di Omaha. Ruang yang tertutup rapat. Setiap yang masuk menggunakan pakaian hazmat atau pakaian dekontaminasi. Dia dikarantina selama 16 hari, 12 hari di dalam unit.

Yang aneh dari virus ini, menurutnya, adalah gejalanya seperti flu ringan, tanpa hidung yang basah, tanpa bersin, tak ada tubuh yang sakit. Hanya demam tinggi, sangat tinggi, yang melonjak selama sekitar 10 jam, menghilang, lalu kembali sebagai demam ringan sekitar dua hari kemudian. Selain itu, ia mengalami sedikit dehidrasi karena demam.

Ia baru dipulangkan setelah dinyatakan benar-benar tidak menular dalam pengujian selama tiga hari.

“Ada begitu banyak yang tidak diketahui dari virus ini,” aku Goldman. Ketika berada di unit biocontainment, petugas mengatakan kepadanya, kalau tidak ada antibiotik yang diberikan. Ia hanya diberikan obat untuk menurunkan demamnya, juga vitamin dan mineral untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya.

Goldman yakin masih banyak hal yang belum diketahui dari virus ini. Seperti istri Goldman, dua orang di antara 15 orang yang ikut di karantina, dinyatakan tetap negatif Covid-19.

Carl Goldman, menjalani masa pemulihan setelah dinyatakan postif Covid-19 (Sumber: Home Town Station)

Kisah lain: virus bisa menginfeksi kembali. Hal ini dialami oleh perempuan Jepang berusia 40-an akhir. Penduduk Osaka yang bekerja sebagai pemandu bis wisata. Ia pertama kali dites positif terkena virus korona-baru pada akhir Januari dan dinyatakan pulih pada 1 Februari.

Beberapa minggu setelah keluar dari rumah sakit, tepatnya di 26 februari, wanita itu mengalami sakit tenggorokan dan nyeri dada. Ia dinyatakan positif Covid-19. Lagi.

Kejadian ini dikisahkan oleh The Guardian dan Kementerian kesehatan Jepang mengatakan kasus semacam itu pertama terjadi di Jepang.

Banyak yang beranggapan, mungkin virus itu belum benar-benar hilang dari tubuhnya. Kalau memang begitu, Covid-19 tidak bertahan di tubuhnya selama 14 hari–masa karantina. Ini kemudian menimbulkan pertanyaan yang mengkhawatirkan soal berapa lama orang harus diisolasi setelah dites positif.

Spekulasi lain, bisa saja terjadi salah diagnosa saat pemeriksaan pertama. Tapi, kemungkinan untuk terinfeksi ulang tak dimungkiri. Memang, umumnya sistem kekebalan tubuh akan mampu mengenali virus yang pernah menginfeksi dan dapat memblokirnya setelahnya. Akan tetapi, tidak selalu pula imunitas tubuh bertahan lama dari serangan virus.

Lalu bagaimana ia bisa menjangkit?

Secara umum, penyakit pernapasan menyebar ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, menumpahkan tetesan air liur, lendir, atau cairan tubuh lainnya dan itu mengenai kita.

Menurut Emily Landon, Direktur Medis Pengawasan Antimikroba dan Pengendalian Infeksi di University of Chicago Medicine dalam National Geographic, kalau tetesan-tetesan ini tidak dipengaruhi oleh udara yang mengalir melalui suatu ruang, melainkan jatuh cukup dekat dari tempat asalnya. Jarak paparan hampir dua meter dari orang yang terinfeksi, selama 10 menit atau lebih.

Ia meyakini jika virus korona-baru memiliki kemiripan dengan sindrom pernafasan akut (SARS) dalam banyak hal. Keduanya zoonosis, artinya mereka mulai pada hewan sebelum ke manusia. Penularan dari manusia ke manusia memiliki masa inkubasi–masa dari saat penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh sampai ke saat timbulnya penyakit–hingga 14 hari. Yang berarti bahwa orang mungkin sakit dan menularkan penyakit sebelum gejala muncul.

Selain itu virus dapat berubah secara dramatis, artinya ia bisa bertahan di permukaan, dari hitungan jam sampai bulan. Juga virus pernapasan dapat ditularkan melalui udara dalam partikel kecil dan kering yang dikenal sebagai aerosol.

Prof. David Heymann, dari London School of Hygiene dan Tropical Medicine, juga penasihat WHO memiliki hipotesa yang sama dengan Landon. Kalau virus korona-baru memiliki kemiripan dengan SARS. Keterlibatannya dalam penelitian pada Maret 2003 di blok apartemen Amoy Gardens, di Hong Kong, tentang SARS menunjukkan kalau terjadi penularan dari feses atau oral. Bisa jadi virus korona-baru begitu.

Tapi Heymann mengatakan, bagaimana penularan virus korona-baru, masih belum pasti. Yang kita tahu bahwa virus ini, seperti kasus Goldman dan istrinya, menginfeksi beberapa orang dalam satu ruangan. Bahwa orang-orang dengan sistem imun yang lemah paling berisiko tertular. Orang yang lebih tua, dan mereka yang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (seperti tekanan darah tinggi, masalah jantung atau diabetes) tampaknya lebih rentan.

Tetapi ketidaktahuan dan ketidakpastian lagi-lagi muncul. Melihat beberapa kasus, mengapa anak-anak , yang sistem imunnya belum sempurna, sangat rentan terhadap beberapa penyakit, tampaknya tidak terlalu berpotensi terjangkit virus korona-baru. Belum pasti juga, apakah ada obat antivirus yang bisa membantu pemulihan. Beberapa obat antivirus, termasuk obat untuk HIV/Aids, diberikan kepada pasien sebagai bagian dari uji coba di Cina.

Meskipun jelas ada penularan dari manusia ke manusia, kita tidak tahu apakah terjadi hanya melalui tetesan dari batuk atau bersin, ataukah ada bentuk penularan lain. Ada laporan tentang penularan melalui udara di Tiongkok, meskipun WHO mengatakan itu umumnya tidak terjadi.

Sampai pagi tadi, virus ini telah dikonfirmasi di lebih dari 100 negara. Di Tiongkok, di mana sebagian besar wabah terjadi, ada 80.924 kasus, dengan kematian 3.123. Sementara, di luar Tiongkok, ada 28.673, dengan kematian 686 kasus. Untuk jumlah pasien sembuh telah mencapai 62.512 atau sekitar 55,04 persen dari seluruh jumlah kasus yang dikonfirmasi.

Ada begitu banyak yang belum diketahui, seyogianya itu yang membuat kita dan pemerintah mawas, tapi tidak panik. Tidak panik bukan berarti pasrah, lalu berdoa ini akan segera berakhir, seperti pesan Menteri Kesehatan Indonesia.

Harus ada keterbukaan untuk ketidaktahuan kita karena ini ancaman bersama. “Epidemi ini ancaman setiap negara, kaya atau miskin,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, Kamis pekan lalu. []

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel