Kapan dan Bagaimana Kasus di Indonesia Melandai?

Di dalam negeri, sejumlah aktivitas yang semula dibatasi mulai dilonggarkan. Di forum WHO, Menteri Kesehatan RI mengungkapkan skenario berbeda.

Satu kamera dengan posisi high-angle ditempatkan di salah satu ruang rapat Kementerian Kesehatan, Kamis (7 Mei) lalu. Format lensa terlihat disengaja lebar (wide-shot) agar dapat menangkap seluruh set ruang. Lima bendera merah-putih di sisi kiri dan kanan mengapit latar bertulis “Ministry of Health Republic of Indonesia”.

Pak Menteri, Terawan Agus Putranto, duduk di tengah-bawah bidang kamera. Di sisi kiri ada kopi—mungkin juga teh—dalam cangkir kertas, sebotol air mineral, dan cairan sanitasi tangan. Keinginan untuk menghadirkan seluruh simbol (kebanggaan nasional serta perilaku hidup bersih dan sehat), mengorbankan aturan “tiga bagian” (rule of thirds) fotografi.

Kamis itu, Terawan berpartisipasi dalam rapat mingguan para menteri kesehatan negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO). Pertemuan dilakukan secara daring, dipimpin Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Lima hingga enam negara, setiap pekan, memaparkan perkembangan situasi dan tanggap yang dikerjakan untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Selain Indonesia, hari itu dijadwalkan pula Australia, Yordania, Ghana, Venezuela dan Austria.

Mendapat giliran terakhir, Terawan membagi paparannya dalam 4 bagian: statistik kasus, permodelan epidemiologi, pendekatan yang dipilih pemerintah Indonesia (kesehatan masyarakat, jaring pengaman sosial, dan dukungan terhadap dunia usaha), serta tantangan dan upaya-upaya yang dijalankan.

Terawan mengaku telah membuat permodelan epidemiologi berdasarkan kenyataan demografi dan geografi Indonesia, sedari masa awal wabah.

“Kami menyadari bahwa kami perlu meningkatkan level intervensi dalam memerangi Covid-19 bila ingin meratakan kurva,” katanya.

Pada lembar paparan (slide) yang ditayangkan, terlihat ada empat model yang disebut Terawan. Berdasarkan keterangan di bagian kanan bawah, model ini dibuat oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat (tak disebutkan nama universitas atau gabungan universitasnya). Dimulai dari perkiraan kasus tertinggi hingga terendah berdasarkan tingkat intervensi untuk meratakan kurva (flattening the curve).

Model paling buruk adalah intervensi secara umum alias tanpa intervensi. Yang dikerjakan hanya deteksi kasus secara rutin, pelacakan kontak dan isolasi mandiri. Pada model ini, kasus di Indonesia diprediksi mencapai 2,4 juta orang, puncaknya dimulai setelah hari ke-65.

Model kedua memperkirakan kasus di Indonesia mencapai 1,8 juta orang. Level intervensinya ringan atau sedang-sedang saja. Maksudnya, pemerintah dan tenaga medis bekerja seperti pada model pertama, ditambah kesukarelaan warga menjaga jarak dan membatasi pengumpulan massa.

Gabungan kedua model di atas, ditambah dengan tes Covid-19 secara massal—meski cakupan wilayah sedikit—dan jaga jarak fisik ditetapkan sebagai keharusan (mandatory), membuat kurva mulai rata saat menyentuh titik 1,2 juta kasus.

Model terbaik lumrah diungkapkan belakangan. Andalannya adalah tes massal di cakupan wilayah yang luas, dan keharusan jaga jarak. Jika ini sukses, saat mendekati angka 600 ribu kasus, kurva Covid-19 di Indonesia akan melandai.

Banyak kasus tak terdeteksi

Indikator angka kasus dalam model terbaik yang disajikan Menteri Kesehatan, mirip dengan paparan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) kepada Komisi IX DPR-RI, 2 April lalu.

Baca juga: Bersiap 600 Ribu Kasus

Itu berarti, selama lebih dari sebulan belum ada revisi terhadap permodelan yang mengacu pada perkembangan data harian dan tingkat respons. Saat Menteri Kesehatan mempresentasikan kerja Indonesia kepada WHO, kita sudah tiba di hari ke-67 wabah. Menyimak skenario terbaik, sedianya telah ada 62.500 kasus terdeteksi dan terkonfirmasi. Namun, hari itu kita baru mencapai angka 12.776 kasus.

Harap diingat, skenario terbaik yang dimaksud adalah deteksi rutin, pelacakan kontak, isolasi mandiri oleh orang yang berpotensi terpapar, keharusan menjaga jarak, pembatasan pengumpulan orang, dan menguji sebanyak mungkin orang di sebanyak-banyaknya lokasi.

Bila empat skenario yang dipaparkan Menteri Kesehatan masih dapat dijadikan pegangan, hari-hari ini belum waktunya kita bicara relaksasi atau pelonggaran. Grafik nasional sulit meyakinkan sebagai sebuah tren. Namun, dari titik-titik tertinggi yang pernah dicapai, boleh dibilang kasus harian cenderung masih meningkat. Ini membuktikan intervensi cukup memadai dilakukan, baik oleh pemerintah maupun warga.

Pada hari ke-73 (13 Mei) Juru Bicara Pemerintah, Achmad Yurianto, mengumumkan kasus baru sebanyak 689. Ini angka harian tertinggi yang pernah ia umumkan. Empat hari sebelumnya, kasus baru dilaporkan sebanyak 554. Empat hari sebelumnya lagi, 506 kasus.

Pelonggaran mobilitas orang

Seperti disebut oleh Menteri Kesehatan, permodelan dibuat berdasarkan profil demografi dan geografi Indonesia. Mengingat pergerakan virus SARS-CoV-2 sangat cepat dan mudah menular, perkiraan yang sudah dibuat itu rasanya tak mungkin meleset terlalu jauh ke bawah. Misal, ke angka 50 ribu kasus. Sebaliknya, bila dalam hari-hari mendatang pergerakan statistik secara nasional menurun, patut diduga ada banyak kasus yang tak terdeteksi.

Itu sebab, pelonggaran mobilitas orang, seperti diizinkan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, perlu dibatalkan.

Kepada WHO, Terawan juga mengungkapkan tujuh tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengatasi Covid-19. Empat tantangan pertama adalah keterbatasan pada kapasitas pelacakan kontak dan pengawasan orang terduga Covid-19, kapasitas laboratorium Kementerian Kesehatan, alat-alat pengujian (testing kits) seperti mesin PCR dan reagen, dan kesenjangan kapasitas laboratorium yang ada.

Tantangan kelima terkait lemahnya fasilitas perawatan kesehatan Indonesia dan minimnya sumber daya manusia. Persoalan itu masih ditambah dengan kelangkaan logistik penunjang, seperti alat perlindungan diri bagi tenaga medis dan ventilator bagi pasien kritis.

Isu terakhir adalah tiadanya vaksin Covid-19 dan belum adanya obat-obatan yang disetujui untuk digunakan. Yang ini bukan isu khusus Indonesia. Sedunia.

Tapi soal satu hingga enam, tak bisa selesai bila satu pejabat mengaku A, koleganya mengeluarkan perintah B.

Untuk membaca materi presentasi Menteri Kesehatan yang disampaikan pada 7 Mei lalu, silakan unduh “COVID-19 RESPONSE IN INDONESIA.

Bila ingin menonton rekaman rapat WHO, sila saksikan “COVID-19 Information session”. Menteri Kesehatan RI bicara mulai penanda waktu 01:06:10.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel