Infodemi Mendului Epidemi

Sebelum muncul kasus korona-baru di Indonesia, wabah disinformasi merebak duluan.

Presiden Joko Widodo mengumumkan dua orang positif terkena virus korona di Indonesia, Senin (2/3), di Istana Negara. Kedua orang itu tinggal di Depok, tak jauh dari Jakarta. Mereka, ibu dan anak, masing-masing berusia 61 dan 31 tahun.

“Kami sudah melakukan isolasi rumah,” kata Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Sebelum informasi ini disampaikan Presiden, media sosial sudah duluan ribut seperti zaman pemilu. Ada yang ragu Indonesia masih nol seperti diakui terus oleh Menteri Kesehatan, ada yang ragu bahwa pemerintah siap, ada pula yang rajin “membela” pemerintah. Di media sosial, siapa mereka mudah ditebak. Anggota Dewan Perwakilan Daerah juga tak mau ketinggalan ber-gawat-gawat.

Mereka yang merasa pemerintah tidak bersiap, tak mencari gara-gara. Sebab, pernyataan wakil-wakil pemerintah itu tidak meyakinkan. Ada yang malah bercanda ketika ditanya wartawan. Misal, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, melempar humor ketika ditanya antisipasi pemerintah soal ekonomi di tengah merebaknya wabah virus korona di dunia.

“Corona kan sudah pergi. Mobil corona (kan)?” kata Menko Luhut di Jakarta, 10/2.

Contoh lain adalah Kementerian Kesehatan yang suka ngeles. Kasus paling bikin geleng kepala adalah jawaban ngeselin dari Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Achmad Yurianto soal warga negara Jepang yang pernah singgah ke Indonesia dan diketahui positif Covid-19. Kata Yurianto menjawab Kompas.com (24/2), “Ternyata setelah diperiksa yang bersangkutan tertular virus korona tipe II (SARS-CoV-2). Data ini berdasarkan komunikasi dengan otoritas kesehatan Jepang.”

Itu mengesalkan, karena mereka yang tertular SARS-CoV-2 nama peyakitnya Covid-19, seperti disampaikan berulang kali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). Disajikan pula secara abadi di halaman situsnya. SpektatorID merekomendasi agar Achmad Yurianto tak lagi menjadi narasumber dalam pemberitaan soal virus korona-baru.

Apa yang disampaikan oleh Yurianto di atas berbakat menyesatkan (misleading). Mungkin maksudnya menenangkan publik agar tidak mudah panik. Tapi menenangkan seyogianya disampaikan dengan informasi yang benar dan tidak berlincir lidah.

Ia pun berkeras bahwa ada perbedaan antara SARS-CoV-2 dan Covid-19. Perbedaan yang ia sebut “hingga 70 persen.” Menyebut angka persen semacam ini terkesan ilmiah, tapi dari mana sumbernya? Institusi kesehatan dan ahli kesehatan mana yang berujar begitu?

Jawaban Achmad Yurianto: “Saya juga mendapatkan referensi dari sejumlah pakar virus.”

Bisa dibilang, pernyataan ini tidak bertanggung jawab. Achmad Yurianto adalah pejabat dari otoritas kesehatan Indonesia. Sumber anonim yang ia gunakan untuk membenarkan ngeles­-nya tentu tak bisa diverifikasi. Ia pun tak pernah mengungkap siapa sang pakar virus tersebut.

Media perlu berhati-hati dalam memilih narasumber dan mengutip pernyataan. Bila pejabat dari kementerian kesehatan saja dapat diragukan kebenaran pernyataannya, apa pula tokoh nonkesehatan yang selama ini dikenal sering berbicara atau berceramah kepada publik. Agaknya saringan redaksi mesti lebih ketat lagi.

Tak ada gunanya mengutip ujaran penceramah—misal tentang “tentara Allah”, anggota DPD dan anggota DPR (kecuali ia bicara tentang regulasi dan anggaran). Begitu juga selebritas dan pemengaruh (influencer)media sosial—kecuali memang ahli epidemi, virologi dan kesehatan masyarakat. Bila selama ini proses saringan di newsroom hanya satu pintu, rasanya perlu ditimbang tambahan saringan informasi.

SpektatorID menyarankan media menunjuk reporter dan editor khusus liputan wabah ini. Mereka dibebaskan dari liputan lari sana-lari sini dan diberi waktu yang cukup untuk mempelajari topik liputannya. Tak perlu seorang dengan latar belakang kesehatan masyarakat atau ilmu kesehatan, tapi waktu yang cukup dapat membuat reporter dan editor belajar banyak.

Bila WHO, laboratorium dan otoritas kesehatan berjuang mengurangi epidemi wabah virus korona-baru, media mesti berusaha keras melawan wabah infodemi. Disinformasi yang telanjur jadi pandemi, bahkan sebelum si Covid-19 sendiri. []

Pengumuman Presiden lihat di sini.

Keterangan Presiden mengenai WNI positif virus korona-baru. Sumber: Sekretariat Presiden
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel