Muncul dan Menular

Tampilan halaman 'tentang' di situs Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan
Mampu berbahasa asing selalu dianggap keren. Kementerian Kesehatan menyangka hal sama. Akibatnya, kata “emerging” lolos digunakan. Kata ‘emerging infectious disease’ diterjemahkan ‘infeksi emerging’.

Sebelas ribu tahun lalu penyakit menular campak menjangkit umat manusia. Wabah berikutnya menyerang Eropa, pada pertengahan abad 14: Black Death. Penyakit ini membunuh hampir dua pertiga penduduk Eropa. Kemudian tahun 1500-an cacar melanda. Demikianlah wabah, akan muncul untuk pertama kalinya, lalu bisa muncul kembali dengan kebaruan genetika atau tidak.

Ada sebuah makalah dari profesor ekologi dan keanekaragaman hayati University College London (UCL), Kate E. Jones dan enam orang kawannya: Global Trends in Emerging Infectious Diseases, diterbitkan oleh jurnal sains Nature, pada 21 Februari 2008. Mereka menganalisis munculnya 335 patogen penyebab penyakit menular pada rentang tahun 1940 sampai 2004. Penyakit infeksi yang muncul 60,3 persen adalah zoonis. Berasal dari hewan. Sebagian besar patogen dari satwa liar, misalnya SARS.

Wabah penyakit yang muncul di dunia, yang meningkat dengan cepat dalam kejadian atau rentang geografis, dikategorikan ke dalam satu terma sebagai Emerging Infectious Disease, dan wabah yang “muncul kembali” disebut sebagai Re-emerging Infectious Disease. Penyakit yang termasuk dalam kategori ini, misalnya, sindrom pernapasan akut (SARS), sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS), flu Spanyol, flu burung, flu babi, ebola, kolera, demam kuning, antraks, polio, sampai infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Coronavirus Disease 2019, disingkat Covid-19, termasuk Emerging Infectious Disease.

Satu hal yang perlu diingat: memprediksi ancaman wabah baru atau yang berubah, bukan perkara gampang. Para saintis yang bergelut dengan virus, misalnya, jadi keder menghadapi serangan mendadak, apalagi otoritas kesehatan suatu negara yang terkena wabah.

Kita melihat jelas bagaimana respons pemerintah-pemerintah pertama kali ketika Covid-19 masuk ke negaranya. Ada yang meragukan ancaman virus, ada pula yang yakin bahwa virus tak mampu menyebar sampai ke negaranya. Mereka bingung.

Kita kenali pula kebingungan serupa di Indonesia. Bedanya, kebingungan itu tak berakhir di bulan pertama. Kementerian Pertanian mengumumkan telah menciptakan kalung “anti-Korona” berbahan minyak kayu putih (eucalyptus). Tanpa uji praklinis, tanpa uji klinis. Setelah diproduksi dan diumumkan sebagai “temuan” dalam negeri, baru mau “diuji coba”.

Pemerintah pasti sudah tahu untuk mengatasi Covid-19 atau wabah-wabah lainnya yang harus disiapkan adalah tenaga ahli kesehatan dan laboratorium-laboratorium. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana menyediakan layanan kesehatan yang selalu waspada dan siap begitu dibutuhkan. Langkah-langkah ini belum lengkap, dan belum pasti berdaya guna. Tapi, mencoba segala kemungkinan juga bukan langkah terukur. Apalagi memilih bikin kalung sebagai ikhtiar mencari kesembuhan.

Kembali ke soal kita: Kementerian Kesehatan membuat situs media informasi dalam jaringan (daring) untuk membahas Emerging Infectious Disease. Berkaitan dengan penyakit menular utamanya masalah Covid-19. Situsnya diberi nama: Infeksi Emerging. Dari situ kemudian pemerintah, untuk menyebut kategori penyakit mewabah ini sebagai “infeksi emerging” atau “penyakit infeksi emerging”.

Istilah itu kurang tepat, karena pengertiannya “penyakit infeksi emerging” adalah jenis penyakit dengan nama emerging. Demikian pula bila menggunakan istilah “infeksi emerging”, anggapannya emerging adalah suatu jenis virus. Padahal sebenarnya suatu kategori.

Pada akhir abad 16, emerging dengan kata dasar emerge sudah dikenal. Ia berasal dari susunan bahasa latin ‘ex’ atau ‘e’ yang artinya keluar dan ‘mergere’ yang artinya tenggelam, kemudian menjadi ‘emergere’ yang berarti, keluar ke permukaan; sorotan; bangkit.

Publikasi paling awal tentang penyakit menular menggunakan istilah emerging infectious diseases, juga emerging pathogens. Istilah “emerging disease” baru disebut dalam laporan sains pada awal tahun 1960-an, di antaranya adalah laporan tahun 1962 tentang pengenalan Equine Piroplasmosis ke Amerika Serikat, sebuah penyakit yang disebabkan oleh parasit bawaan yang terdapat pada kuda.  Judulnya Equine Piroplasmosis—Another Emerging Disease.

Emerging Disease” kemudian populer karena seorang pejabat kesehatan publik Amerika Serikat, David J. Sencer, menuliskan laporan di institusi kesehatan publik nasional, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tempatnya bekerja, dengan judul, “Emerging Diseases of Man and Animals” pada Oktober 1971. Ia memakai kata emerging dengan arti ‘muncul’ untuk menjelaskan bahwa penyakit menular itu muncul sebagai masalah kesehatan publik, baik itu yang baru maupun muncul kembali.

Seorang epidemiologis Amerika dari University Columbia, Stephen S. Morse, seperti dapat diperiksa pada blog sains populer sciencedirect.com, pernah mengatakan bahwa bisa saja kita menggunakan terminologi ‘Emerging Viruses’, merujuk pada kemampuan virus yang menular dengan cepat. Meski kadang kala virus itu tidak selamanya baru, melainkan yang baru adalah inangnya.

Kementerian Kesehatan bisa meminjam terminologi Morse untuk nama situsnya, atau jika bingung mencari padanan kata yang tepat untuk Emerging Infectious Disease tak perlu mengindonesiakannya, apalagi hanya separuh. Lebih sederhana pakai saja ‘Penyakit Menular’ atau kalau pun masih ngoyo memakai istilah Inggris: Infectious Disease. Jangan hilangkan kata ‘disease’ karena ia yang memperjelas apa yang menular (infectious) dan apa yang muncul (emerging). []

Baca juga: 

Epidemi Disinformasi

Ihwal Pulasara

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel