Beda Kata Presiden, Jubir Korona, dan WHO

Photo by Chokniti Khongchum on Pexels.com
Hari-hari ini masih terlalu pagi untuk meyakini angka persentase pulih dan kematian akibat Covid-19. Tiap lokasi berbeda, salah satunya, bergantung pada jumlah kasus yang ditangani.

Laporan Otoritas Kesehatan Tiongkok menyebutkan, sepekan terakhir terjadi peningkatan angka pulih di beberapa kota di negara itu. Paling tinggi 52,1 persen.

Untuk bisa mengukur secara sementara, dibutuhkan angka yang memadai. Di Indonesia, kita belum bisa bicara banyak. Meski maksudnya menenangkan, dan itu baik, pernyataan Presiden Joko Widodo lewat video yang diunggah di situs Kementerian Kesehatan ini masih sangat dini.

Data yang disampaikan kepada Presiden bahwa ada 94 persen lebih pasien Covid-19 dapat disembuhkan, agaknya perlu diragukan.

[Pada 6 Maret 2020, pukul 22.20 WIB, SpektatorID menambahkan paragraf berikut]

Kalau tidak bisa dibilang: salah baca data. Angka 94 persen bukan berasal dari total kasus (saat itu jumlahnya lebih dari 96 ribu kasus). Laporan suatu kasus, lazimnya dibagi ke dalam dua kategori besar dengan beberapa kategori turunan. Yaitu, kasus aktif dan kasus yang telah ditutup. Kasus aktif terdiri dari jumlah pasien dengan kondisi kritis dan kondisi sedang. Sementara suatu kasus dinyatakan ditutup, karena dua sebab: pasien sembuh atau meninggal dunia. Angka 94 persen yang disebutkan oleh Presiden dalam video kampanye “cegah virus korona” ini berasal dari jumlah “kasus ditutup”, bukan 94 persen dari total kasus virus korona-baru.

Jadi, jumlah pasien yang sembuh, tak bisa disebut 94 persen.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada media briefing Selasa (3/3) lalu menyampaikan, angka kematian kasus Covid-19 mencapai 3,4 persen. Lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang sekitar 2 persen.

Sebagai perbandingan, flu musiman di Amerika, angka kematian 0,1 persen.

Banyak presentasi berbentuk grafis yang disebarkan juga membandingkan tingkat kematian akibat korona-baru dengan kasus-kasus wabah virus sebelumnya. Misal, SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome/sindrom pernafasan akut berat) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome/sindrom pernafasan timur tengah). Dibanding mereka tingkat kematian Covid-19 memang masih terbilang rendah.

SARS, pertama kali mewabah tahun 2002 di Guangdong, RRT, mencatatkan kasus sebanyak 8473 pasien. Sebanyak 813 pasien meninggal dunia, atau 9,6 persennya.

MERS yang pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi, tahun 2012, persentasenya jauh lebih tinggi lagi. Dari 2494 pasien, 858 orang meninggal dunia. Tingkat kematian: 34 persen.

Penting dicatat, angka yang disampaikan oleh Tedros berupa perkiraan. Untuk dapat menghitung secara pasti apa yang disebut case fatality rate (CFR) rumusnya sederhana: angka kematian/jumlah kasus.

Tapi, itu hanya bisa diperoleh ketika wabah berakhir. Maka, untuk menghitungnya perlu ditambahkan keterangan waktu. Kematian hari itu dibagi jumlah kasus hari itu.

Bila secara global “diperkirakan” angka kematian sementara ini 3,4 persen, di Wuhan persentasenya—hingga pekan lalu—adalah 4,9 persen.

Sesungguhnya ketergesaan tidak memberi kejelasan. Terburu-buru mengambil kesimpulan, dan menyebarluaskan secara meyakinkan bukan cara yang dianjurkan dalam komunikasi mengatasi wabah. Satu contoh buruk lain diberikan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan virus korona, Achmad Yurianto, Kamis (5/3).

Ada dua pernyataan Yurianto yang mengundang kerut dahi. Pernyataan pertama: Covid-19 sama dengan influenza. Ini berbeda dengan penjelasan Direktur Jenderal WHO.

Yang kedua, ia berbeda dengan Presiden mengenai angka kesembuhan.

Menurut Dirjen WHO, “virus ini bukan SARS, bukan MERS, dan bukan influenza. Ini virus unik dengan karakteristik yang unik.”

Ada empat perbedaan utama antara Covid-19 dan influenza.

  • COVID-19 tidak menyebar seefisien influenza. Pada kasus influenza, orang yang terinfeksi tetapi belum sakit menjadi pendorong utama penularan. COVID-19 berbeda. Bukti dari Cina menunjukkan hanya 1 persen dari kasus yang dilaporkan yang tidak memiliki gejala. Sebagian besar dari kasus yang dilaporkan memiliki gejala dalam 2 hari.
  • COVID-19 menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada influenza musiman. Tubuh kita telah membangun kekebalan terhadap jenis flu musiman. COVID-19 adalah virus baru, dan kita tidak memiliki kekebalan terhadapnya. Itu berarti lebih banyak orang yang rentan terhadap infeksi, dan beberapa akan menderita penyakit parah.
  • Belum ada vaksin dan pengobatan khusus untuk COVID-19. Vaksin dan terapi untuk flu musiman ada.
  • Tak ada orang yang dikurung karena flu musiman. Tidak ada pelacakan kontak untuk flu musiman.

“Dari perbedaan-perbedaan ini, berarti kita tak dapat mengobati COVID-19, seperti kita mengobati flu,” kata Tedros.

Saat ini WHO tengah mendorong banyak negara untuk menemukan antibodi COVID-19. WHO mengembangkan protokol tentang bagaimana studi ini harus dilakukan.

“Ini akan memberi kita wawasan lebih lanjut tentang tingkat infeksi dalam populasi dari waktu ke waktu,” demikian Tedros.

Penting. Studi. Data. Sebelum keyakinan. []

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel