Setiba di Indonesia, Menginap Dulu di Asrama Haji

Dua bus membawa jamaah tablig yang selesai dikarantina di Asrama Haji Pondok Gede
WNI yang kembali ke tanah air, tak dapat langsung kembali ke rumah. Di bandara menjalani pengujian, dilanjutkan dengan karantina, 4-5 hari.

Dari luar, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, tampak sepi. Di muka jaga ada tentara berparas muda bersiaga. Seluruhnya tujuh orang dengan seragam. Selain mereka, ada dua orang yang potongannya seperti tentara. Seorang berkemeja putih, seorang lain berkaos polo dengan corak hijau-coklat-putih.

Itu hari Jumat, 15 Mei 2020. Sekitar pukul 14.40 WIB, dua bus sekolah berwarna kuning keluar dari asrama. Di belakangnya tampak ada bus-bus lain. Kendaraan itu mengangkut orang-orang yang usai menjalani karantina. Hari ini mereka akan pulang ke kampung halaman masing-masing.

Lelaki berkemeja putih di pos jaga berdiri. Ia mengarahkan tentara-tentara muda di depannya untuk mengecek bus terlebih dahulu sebelum keluar. Bus-bus sekolah cuma mengantar sampai di depan gerbang asrama. Yang lainnya mengantar hingga ke Pulo Gebang atau ke Kapuk. Keterangan ini terdengar disampaikan oleh bapak-bapak di pos jaga.

Petugas di pos jaga Asrama Haji Pondok Gede: semua yang dikarantina sudah dipulangkan.

Sampai pukul 17, ada delapan bus yang keluar dan cuma mengantar sampai di depan gerbang. Ini rombongan Jamaah Tabligh dari Bangladesh. Menurut seorang tukang parkir di depan gerbang asrama, tadi pagi, ada juga sepuluh bus yang keluar mengantar. Mereka juga berasal dari kelompok terbang (kloter) Bangladesh, hanya bukan dari rombongan Jamaah Tabligh.

Warga Negara Indonesia (WNI) itu mendarat di Cengkareng dari Bangladesh, 12 Mei, sekira pukul 21. Seluruhnya ada 203 orang. Mereka diperiksa berkasnya dan diukur suhu badan sebelum meninggalkan bandara dan langsung diantar ke Asrama Haji untuk dikarantina. Ke-203 orang itu terdiri dari Jamaah Tabligh (162 orang), pelajar dan pekerja migran (34 orang), ditambah 13 kru dari Dhaka.

Mereka yang sudah dikarantina di Asrama Haji Pondok Gede, sedang menunggu taksi daring untuk pulang.

Semua kloter Bangladesh dipulangkan dari asrama setelah dua hari menunggu hasil tes swab–dan semua hasilnya negatif. “Kemarin (Kamis) sama hari ini dikeluarkan bertahap,” kata Muhammad Ikhwan, seorang Jamaah dari Lampung. Sebelumnya, ia tampak mengatur anggotanya yang turun dari bus. Jamaah dari Lampung itu langsung pulang dengan mobil van sewaan.

Turun dari bus yang berbeda, seorang anggota Jamaah Tabligh asal Ambon, Ahmad, mengatakan bahwa mereka yang dipulangkan hari itu adalah yang menempati gedung A dan B. Semuanya, sebanyak 196 orang yang tiba dari Bangladesh dan ditempatkan di Gedung A, B, dan C.

Selain itu, ada enam mahasiswa Turki dan Arab yang menempati gedung D5. Ahmad sendiri berada di gedung A. Tiap gedung ada tiga lantai. Hitungan Ahmad, tiap lantai ada 20 kamar.

Asrama Haji Pondok Gede totalnya memiliki sepuluh gedung dengan kapasitas lebih dari 2.000 orang. Enam gedung terdiri dari 36 kamar, empat gedung bervariasi: 54 kamar, 44 kamar, 42 kamar, dan 49 kamar. Satu kamar ada yang diisi dua orang, ada yang tiga orang. Paling banyak empat orang.

Ada empat ranjang di tiap kamar, masing-masing berjarak sekitar semeter. Tidak semua gedung yang ada di asrama digunakan. Sebelumnya, di bulan Maret, sudah ada satu gedung yang berdekatan dengan Rumah Sakit Haji Jakarta dijadikan tempat menampung pasien Covid-19. Namun, menurut pengakuan Ahmad, gedung A dan B terisi penuh.

Pada rapat terbatas, 11 Mei, Presiden Joko Widodo menyetujui Asrama Haji Pondok Gede dijadikan tempat karantina. Esoknya, WNI dari luar negeri berdatangan. Setelah kloter Bangladesh (203 orang), sebanyak 225 WNI Anak Buah Kapal (ABK) Barbados dari Kepulaan Karibia Venezuela, Amerika Selatan, masuk sehari kemudian.

Masih ada 34 ribu pekerja migran Indonesia yang siap dipulangkan karena kontraknya akan berakhir. Mereka akan di karantina terlebih dulu, termasuk ditempatkan di Asrama Haji Pondok Gede.

Satu bus terakhir sore itu, 15/5, baru saja mengantar WNI dari luar negeri yang sudah menjalani karantina.

“Oh, masih banyak di dalam itu,” kata Ahmad dengan logat Ambon. “(Ada juga) WNI dari Amerika dan lain-lain,” lanjutnya.

Ia tengah menunggu jemputan di depan gerbang asrama. Ahmad juga bercerita kalau ada pasien dari Wisma Atlet yang dipindahkan ke Asrama Haji. Ada informasi, WNI yang baru datang, tak lagi ditempatkan di Asrama Haji, karena penuh. Mereka dibawa ke Balai Besar Pelatihan Kesehatan di Cilandak.

Namun, bapak-bapak di pos jaga memberi keterangan berbeda. Menurut petugas jaga, di dalam sudah kosong dari penghuni. Kata mereka, semua sudah dipulangkan sejak pagi.

Orang-orang yang bertugas di sana menyebut area dalam Asrama Haji sebagai “zona merah”, dan tak sembarang orang yang boleh masuk. []

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel