Skenario Terbaru: Durasi Pandemi 2 Tahun

Koleksi Pixabay
Beberapa ahli mempelajari riwayat wabah global yang mirip dengan Covid-19, dan menemukan 3 kemungkinan skenario. Kita diminta bersiap untuk 18 hingga 24 bulan mendatang.

Kita berharap pandemi Covid-19 segera berakhir, secepat mungkin. Kita orang sedunia. Tak seorang pun menginginkan wabah global ini berlanjut bahkan hanya untuk sepekan ke depan. Bila bisa besok, bagus banget. Tapi, hasil penelitian terakhir menyimpulkan, virus penyebab penyakit Covid-19 tak akan lenyap dalam waktu segera, tidak juga semusim lagi. Ia diprediksi masih bertahan cukup lama.

“Pandemi virus korona kemungkinan akan berlangsung hingga akhir 2022,” tulis para peneliti dari Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular (Center for Infectious Disease Research and Policy/CIDRAP) Universitas Minnesota, AS.

Untuk menemukan beberapa skenario, para peneliti menggabungkan data kasus Covid-19 sedunia dengan pandemi influenza yang pernah terjadi sejak tahun 1700-an. Setidaknya ada 8 kali pandemi influenza sepanjang abad itu, dan empat kali sejak 1900an, yakni 1918-1919, 1957, 1968, dan 2009-2010.

Peneliti mencatat bahwa coronavirus baru (SARS-CoV-2) bukan sejenis influenza. Virus ini lebih mudah menyebar daripada flu, dapat asimtomatik (tidak menyebabkan atau menunjukkan gejala penyakit), dan proporsi penyebaran lebih besar dibandingkan influenza. Perbedaan lain di antaranya menyangkut masa inkubasi. Covid-19 memiliki masa inkubasi lebih panjang (5 hari dengan rentang 1-14 hari), sedangkan influenza dua hari (rentang 1-4 hari).

Meski berbeda, pandemi influenza dan pandemi Covid-19 memiliki beberapa kesamaan penting. Itu sebab, datanya digunakan oleh para peneliti. Pertama, virus penyebab Covid-19 dan influenza menyerang sistem pernapasan dan kita sangat sedikit atau tak memiliki sistem kebebalan terhadapnya; kedua, SARS-CoV-2 dan virus influenza sama ditularkan melalui percikan dari hidung atau mulut (droplet), dan belakangan dapat juga melalui aerosol (partikel halus zat padat atau cairan dalam gas atau udara); dan terakhir, kedua virus mampu menginfeksi jutaan orang dan bergerak cepat ke seluruh dunia.

Baca juga: COVID-19, Sama atau Beda dengan Influenza?

Pandemi dapat dikendalikan ketika vaksin telah diinjeksi ke tubuh manusia. Selesainya pandemi bisa pula dicapai ketika populasi manusia kebal virus mulai mencapai jumlah yang meyakinkan. Para peneliti kesulitan menentukan indikator angka lantaran data darah yang dapat digunakan untuk pemantauan (serosurveillance data) saat ini masih minim.

Perkiraannya, pandemi berakhir bila populasi yang kebal virus korona-baru telah mencapai sedikitnya 60 hingga 70 persen.

Baca juga: Pasien COVID-19 Sembuh, Apa Bisa Terinfeksi Kembali?

Nasib pandemi virus korona-baru digambarkan berlangsung dalam tiga pilihan skenario.

Sumber gambar: Laporan CIDRAP

Skenario 1: Puncak dan Lembah

Gelombang kasus yang telah terjadi ini diikuti oleh serangkaian gelombang yang lebih kecil secara konsisten selama satu hingga dua tahun dan berkurang secara bertahap pada 2021. Kondisi gelombang akan berbeda satu daerah dan yang lain secara geografis dan tergantung pada langkah-langkah mitigasi dan rencana pelonggaran (relaksasi).

Menurut para peneliti, upaya mitigasi itu tetap terkait dengan bagaimana penerapan jaga jarak dan pembatasan aktivitas sosial, termasuk penutupan bisnis non-esensial.

Skenario 2: Puncak Musim Gugur

Gelombang pertama pada musim semi ini akan diikuti oleh gelombang kasus yang lebih besar pada musim gugur dan dingin 2020, serta satu atau dua riak pada tahun depan. Langkah mitigasi yang lebih terencana dan lebih baik diperlukan pada triwulan akhir 2020. Tujuannya agar infeksi dapat diturunkan dan mencegah layanan kesehatan masyarakat mengalami kewalahan seperti sekarang.

Pola skenario kedua ini mirip dengan apa yang terjadi pada Pandemi Flu Spanyol, 1918-1919, yang disebabkan virus A influenza H1N1. Gelombang kecil dimulai pada Maret 1918 dan mereda selama musim panas. Puncak kedua yang jauh lebih besar terjadi pada musim gugur 1918. Dianggap sudah landai, ternyata ada puncak ketiga yang terjadi selama musim dingin dan musim semi 1919. Gelombang terakhir itu baru mereda pada musim panas 1919, menandakan akhir pandemi.

Pandemi 1957-1958 juga mengikuti pola yang sama: gelombang kasus meningkat amat besar, dan ketika telah mencapai puncak disusul riak-riak kecil berturut-turut selama beberapa tahun). Pandemi 2009-2010 mengulangi apa yang telah terjadi pada dua pandemi sebelumnya. Gelombang paling besar datang pada musim gugur.

Skenario 3: Pembakaran Lambat

Pada skenario ini dunia akan mengalami kasus-kasus Covid-19. Tak ada pola yang jelas dalam gambaran ketiga ini. Gelombang kasus yang telah terjadi tinggalah gelombang. Puncaknya pada musim semi, yang sebagian besar negara sudah mengalami, lalu terus saja–ada saat naik, saat turun, naik lagi, turun lagi. Meski pola semacam ini tidak terlihat pada pandemi influenza, namun kemungkinannya bisa saja terjadi pada pandemi yang kita hadapi sekarang.

Ketiga scenario di atas ditentukan pula oleh kecepatan menemukan vaksin dan menginjeksinya kepada manusia. Namun, kabar terakhir yang dilansir Business Insider, vaksin baru akan tersedia pada akhir 2021.

Laporan penelitian CIDRAP bisa diunduh di sini.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel