Mereka yang “Tak Lugu” Yakin, Memecahkan Konspirasi Bisa Menyelesaikan Pandemi

JRX dan dr. Tirta berdebat terbuka tentang konspirasi dan realitasnya di rumah sakit melalui siaran langsung di akun Instagram mereka.
Beberapa negara masih menyangkal Covid-19, dan menganggap ini hanya perang antara Tiongkok dan Amerika. Kelompok orang yang “tidak lugu” pun yakin: Covid-19 adalah konspirasi.

Seorang pejabat senior Tiongkok menuduh Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) membawa virus korona-baru (kini namanya SARS-CoV-2) ke Wuhan; Presiden Venezuela, Nicolás Maduro Moros, beranggapan virus itu adalah senjata biologis Amerika untuk Tiongkok; Iran menolak bantuan Amerika dan menuduh Paman Sam memproduksi virus tersebut; Rusia menuduh Amerika mau memporak-porandakan ekonomi Cina melalui isu Covid-19; dua peneliti dari Universitas Teknologi Tiongkok Selatan di Guangzhou, Xiao dan Lei Xiao, mengatakan kalau kemungkinannya virus ini berasal dari laboratorium di Wuhan.

Presiden AS, Donald Trump, balik menuduh. Ia menyebut Covid-19 sebagai “Virus Cina”. Pada konferensi pers di Gedung Putih, Rabu-15 April 2020, Trump mengatakan pemerintahannya sedang menyelidiki kemungkinan virus itu bermula dari Laboratorium di Wuhan. Ia memberi sedikit ancaman agar Tiongkok mau menanggung konsekuensi jika kelak terbukti. Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo meminta agar Tiongkok berterus terang tentang apa yang mereka ketahui soal Covid-19.

Di saat hujan tudingan berlangsung antara RRT–AS, beberapa negara masih menyangkal keberadaan penyakit yang disebabkan oleh virus korona-baru. Mereka menganggap SARS-CoV-2 tak berbahaya–sama dengan virus influenza musiman.

Para penyangkal virus

Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, berulang kali menyiratkan bahwa virus itu kurang berbahaya. Tak seperti yang dikatakan oleh para ahli. Ia bahkan mengimbau para pendukungnya untuk berdemonstrasi menolak pembatasan jarak. Bolsonaro memecat menteri kesehatannya, Luiz Henrique Mandett, karena ia tak menyangkal adanya Covid-19.

Di kawasan Asia Tengah, negara-negara bekas Uni Soviet, Turkmenistan dan Tajikistan, kehidupan masih berjalan “seperti biasa”. Festival Norouz (perayaan liburan musim semi) dan liga sepak bola masih dilangsungkan–di Tajikistan laga dilakukan tanpa penonton, tapi di Turkmenistan, stadionnya penuh sesak. Kedua negara itu mengklaim tak ada kasus Covid-19.

Baca juga: Kita Ngeri Pada yang Tak Dimengerti

Di bagian lain Asia Tengah: Kazakhstan, Kirgistan, dan Uzbekistan, saat kasus pertama kali terkonfirmasi, pertengahan Maret lalu, masing-masing negara mulai membatasi segala aktivitas warganya. Tak ada Norouz, tak ada sepak bola. Kehidupan normal terhenti seketika. Pemerintah mengimbau agar warga tak keluar rumah kecuali membeli kebutuhan dapur.

Pengunyah konspirasi di Indonesia

Minggu lalu, jagat maya “warga plus enam dua” dimeriahkan oleh debat pentolan Superman Is Dead, band punk dari Bali, I Gede Ari Astina a.k.a Jerixs atau sering ditulis JRX, dengan seorang sneakers influencer alih-alih dokter, Tirta Mandira Hudhi a.k.a dr. Tirta (yang namanya sudah terdaftar di Wikipedia setelah aksi kerelawanannya melawan Covid-19 dan membantu tim medis).

JRX kukuh percaya bahwa Covid-19 hanyalah konspirasi. Ia sendiri sudah menanam dalam-dalam ke sanubarinya untuk membongkar skandal itu. Sementara dr. Tirta bertahan dengan argumen dari realitas di rumah sakit.

Baca juga: Ketidaktahuan dan Ketidakpastian yang Melingkupi Covid-19

Bagi JRX, seperti mereka yang percaya pada konspirasi, virus penyebab Covid-19 itu sengaja dibuat. Apalagi melihat respons negara-negara di atas yang menggambarkan seolah situasi sekarang hanya perang dua negara besar. JRX tak henti mengingatkan agenda di balik pandemi Covid-19.

Bagi JRX, kelelawar cuma “kambing hitam”. Tak mungkin hanya gegara pergi ke pasar hewan di Wuhan, orang bisa terinfeksi. Tak mungkin Covid-19 bergelantungan di setiap bumbu santan paniki (makanan khas Manado dari kelelawar), atau di kelelawar bacem dan kelelawar goreng khas Gunungkidul, Yogyakarta.

Tapi, tentu, menyalahkan apalagi sampai membunuh kelelawar adalah tindakan yang salah. Kelelawar sangat membantu penyerbukan tumbuhan berbiji, membantu regenerasi pohon di hutan tropis, dan memakan serangga pembawa penyakit. Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mendaftarkan setidaknya ada 24 spesies kelelawar menghadapi risiko kepunahan yang mungkin segera terjadi. Lima puluh terancam punah, dan 104 spesies kelelawar dianggap rentan. Dari seribuan spesies, masih ada 226 spesies kelelawar yang masih belum diketahui secara pasti “bibit-bebet-bobotnya”.

Memang sangat mungkin virus ini berasal dari kelelawar, tapi virusnya butuh bertemu inang perantara sebelum menyebar ke manusia. Seperti wabah SARS 2002: dari kelelawar jenis tapal kuda menuju musang. Dalam kasus Covid-19, trenggiling disebut-sebut sebagai inang perantara virus. Meski trenggiling tidak termasuk dalam daftar hewan yang dijual di Wuhan, tapi trenggiling adalah salah satu mamalia yang diperdagangkan secara ilegal di dunia, dan bisa saja ada di pasar Wuhan.

Evolusi SARS-CoV-2

Prof. Edward Holmes, dari Universitas Sydney, ikut meneliti kemungkinan muasal virus dengan melihat genomnya. Pendapatnya dikutip dalam The Guardian. Ia mengamati, karakteristik virus itu mampu berevolusi jika terdapat pada inang, dan trenggiling sebagai inang yang mampu meningkatkan karakteristik tersebut. Begitu pula sebenarnya pada kucing, kerbau, sapi, kambing, domba, dan merpati.

Penelitian lain dalam artikel yang sama mengesampingkan trenggiling. Rantai asam amino pada trenggiling tak terlihat dalam virus korona-baru yang menginfeksi manusia. Kemungkinannya, virus itu langsung melompat ke manusia kemudian beradaptasi dan menyebar dari manusia ke manusia.

Hal yang sudah pasti, menurut Dr Michelle Baker, seorang ahli imunologi di CSIRO yang mempelajari virus pada kelelawar, adalah virus penyebab Covid-19 berasal dari kelelawar. Yang belum pasti adalah inang perantaranya. Ada banyak hewan yang mungkin berinteraksi dengan kelelawar di pasar Wuhan.

Virus BatCoV RaTG13 yang terdapat pada kelelawar asal Yunan–Rhinolophus Affinis atau kelelawar ladam menengah, merupakan keluarga dari Rhinolophidae yang tersebar luas di Asia Selatan, Asia Tenggara dan Tiongkok. Ia mirip virus SARS-CoV-2 sampai 96 persen (menurut laporan Jurnal Nature Medicine).

SARS-CoV-2 adalah virus korona ketujuh yang diketahui menginfeksi manusia. Pada pertengahan 1960-an pertama kali dilaporkan virus korona dengan kode HCoV-229E (alphacoronaviruses). Tahun 2004 di Amsterdam, alphacoronaviruses kembali dilaporkan, diberi kode HCoV-NL63 untuk membedakan dengan virus yang pertama.

Kemudian ada betacoronaviruses, dikasih kode HCoV-OC43 (varian virus korona yang umum ada di berbagai negara) dan HCoV-HKU1 (pada 2005 diindentifikasi di Hongkong).

Dua virus korona yang dampaknya parah, bisa menyebabkan kematian, yakni SARS-CoV (sindrom pernafasan akut, pertama kali diidentifikasi di Tiongkok pada November 2002) dan  MERS-CoV (pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada 2012 hingga 1 Agustus 2013).

SARS-CoV-2 berasal dari kelompok betacoronaviruses dan sangat dekat dengan SARS-CoV. Ada yang bilang kalau virus korona-baru ini lebih efisien mengenali reseptor ACE2 (Angiotensin converting enzyme 2) daripada virus korona sebelumnya. ACE2 adalah enzim yang menempel pada permukaan luar (membran) sel-sel di beberapa organ, seperti paru-paru, arteri, jantung, ginjal, usus. Itu sebab mengapa Covid-19 bisa menyebar dengan cepat ke manusia.

Jika SARS-CoV-2 adalah buatan, maka salah satu dari beberapa sistem genetika betacoronaviruses akan digunakan. Namun, data genetik yang ditemukan dari SARS-CoV-2 tidak berasal dari tulang punggung betacoronaviruses.

Tak ketinggalan: Bill Gates

Selain isu AS vs RRT, penghayat konspirasi juga tak melupakan satu nama. Menurut JRX, ini yang membuatnya jengkel bukan kepalang, yakni ada orang kaya raya yang mengendalikan dan mendapatkan keuntungan dari bencana ini. Salah satu nama paling tersohor adalah Bill Gates.

“Informasi yang salah itu berbahaya, terutama dalam krisis seperti ini. Kepercayaan orang pada hal-hal liar semakin tinggi,” jawab Bill Gates kepada Vox saat ditanyai perihal konspirasi di balik Covid-19 yang melibatkan namanya.

Baca juga: Infodemi Mendului Epidemi

Sebagai tertuduh, tentu saja respons Bill Gates menyayangkan hal tersebut. Ia berharap konspirasi itu segera selesai.

Tapi, sepertinya belum akan selesai. JRX menyebut mereka yang tak percaya adanya konspirasi sebagai “orang-orang yang lugu.” Maka, sepanjang “orang-orang yang tidak lugu” seperti JRX masih banyak, maka teori konspirasi tak akan kelar. Konspirasi bakal terus berkelana di tiap peristiwa.

Para penyangkal Covid-19 mungkin lupa virus korona-baru ini bukan jenis virus yang segera mematikan. Virus ini “hanya” menyebar dengan cepat. Dan bahayanya ada di situ: menyebar dengan cepat.

Kaum “tidak lugu” seperti JRX yakin, kalau memecahkan konspirasi bisa menyelesaikan pandemi Covid-19. Padahal yang kita butuhkan sekarang adalah waspada. Sebab, masih banyak hal yang belum kita tahu tentang virus ini. Tapi “hal-hal yang belum kita tahu” ini bukan konspirasi loh ya. []

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Share on email
Ikuti via Surel